1 | 2

Kembang kempis dadamu dikhianati oleh pacuan jantung yang tak cepat lagi

Menatap bibit-bibit kecil yang kau wariskan cita-cita serta kunci untuk menahan luka hidup

Walau begitu kau tidak mau menyerah di hadapan Malak al Mawt

Sabit hitam tepat berada di bawah lehermu, kau  tetap bergeming

 Dengan bahu turun kau anggap ia sebagai kawan lama yang kau rindukan dalam tiap mimpimu

 

Kau bagai kuda hitam yang berlari menuju medan tempur

Meringkih, menendang, dan berjuang membawa sang penunggang meraih kemenangan

Namun kini langkahmu semakin lunglai serta matamu bagai bulan tertutup awan

Menyadarkan bahwa kau telah sampai di ladang akhir tempat  kau beristirahat

Sang penunggang turun dan berdiri di samping tubuh lelahmu

Memahat beribu-ribu hari membentuk liontin memento untuk kalung kepergianmu

 

 Garis di monitor mencatat jelas tekadmu ‘tuk bertahan

Namun penunggangmu tidaklah naïf, ia tahu bahwa ini adalah waktumu untuk beristirahat

Semua orang berpura-pura bodoh memberimu rumput dan madu setiap hari

Menghargai sisa-sisa dari senyum hangatmu dengan mengatakan bahwa senyummu adalah yang terbaik

Merawatmu di atas kasur putih memajang Daffodil sebagai pengganti Marigold

Atau secara sederhana memintamu untuk berdoa akan datangnya malam dengan langit berbintang

 

Pada akhirnya kau benar-benar pergi

Nol per nol dengan garis lurus

Tak ada penebusan, terasa singkat namun akan terus membekas

Semua orang menangis karena tak tahu harus mengucapkan apa selain selamat tinggal

Sementara sang penunggang menangis

Membenci dirinya yang telah menyadari  namun tetap terus tertawa bersamamu sampai akhir

 

Kini tinggallah sang penunggang sendiri

Tersiksa dengan rajutan jarum kenangan yang terjalin dalam kabut mimpi

Berharap hujan akan segera berhenti

Agar sang pelangi dapat memulai debutnya esok hari

 

Sampai akhir, kau adalah kuda hitam yang gigih dan berani

Meyakinkan sang penunggang untuk terus bernyanyi dalam ironi yang nampak tak bertepi

Karena beberapa yakin tanah basah ini akan mengering suatu saat nanti

Setelah menyerahkan pelana, sang kuda hitam benar-benar pergi

Berpisah jalan dengan sang penunggang yang kan terus berjalan sampai hari akhir

Jantung sang kuda telah jatuh ke dalam tanah

Walau begitu dalam ephorium senja, sang kuda tetaplah berlari

Tanpa lelah, tak gentar meringkih bersama angin sejuk eden yang abadi

Bio: My name is Adzaini. Im a college student in Universitas Nasional Jakarta, Indonesia, and currently taking a bachelor’s degree in International relations studies. Meanwhile, I have a deep interest about poetry and philosophy. In high school, I won the third place in city level poetry writing competition held by Diploma IPB in 2016. Up until now, I’ve been writing poems as a hobby and to fill my spare time.

Tarik ulur benang layangmu

Jika angin berhembus biarkanlah layanganmu terbang tinggi

Menyentuh ufuk pagi sebelum senja

Menghibur awan sebelum hujan

 

Bawalah ia berlari dan berotasi di langit biru

Sebelum hari menjadi gelap dan matahari tak terlihat lagi

Bernafaslah perlahan dan lepas tawamu bagai penetrasi relung duka

Layang-layang terbang semakin tinggi, menjauhi tanah tempat ia seharusnya kembali

 

Benang terputus, layang-layang terbang dengan bebas

Menjangkau Yomi tempat penyesalan Izanagi berada

Memekarkan spider lily mengalirkan air mata atas darah yang telah mengering

Layang-layang perlahan berwujud kembali menjadi rangka

 

Kini anak pemain layangan telah tumbuh dewasa

Berceritalah mereka mengenai layangan yang dahulu terbang menyapa matahari

Menggoda langit untuk berdansa bersamanya

Namun sang anak juga bercerita

Pahitnya ketika  sang langit merenggut layangan kesayangan

Tapi sekarang sudah tidak apa

Karena luka kan tertutup seiring hembusan nafas yang beralun

Bio: My name is Adzaini. Im a college student in Universitas Nasional Jakarta, Indonesia, and currently taking a bachelor’s degree in International relations studies. Meanwhile, I have a deep interest about poetry and philosophy. In high school, I won the third place in city level poetry writing competition held by Diploma IPB in 2016. Up until now, I’ve been writing poems as a hobby and to fill my spare time.

Kupotong garis bujur agar tak terlihat perbedaan waktu

Kupotong garis lintang agar tak ada penanda iklim

Namun semua itu tak bisa menghalangi cahaya Mentari dan rotasi bumi

Jalan itu tetap akan menyapa…

 

Jika benang waktu itu ada,

Ku ingin menariknya ke masa dimana aku baru mengenal huruf dan angka

Kuingin merangkainya dan kuabadikan kedalam tumpukan kertas,

Mendengarkan cerita lugu dari kawanan bangau dan burung senja,

Memandang layangan yang semakin meninggi menemui awan, dan

Berlari disepanjang jalan setapak tanpa alas kaki sembari menyapa ilalang

 

Jika benang disepanjang garis pantai dunia ini bisa kuuntai

Ku ingin menariknya ke masa dua puluh tahun silam ketika musim penghujan tiba

Jika kembali ke waktu itu, akan kubiarkan air dari langit membasahi sampai kedalam hati,

Bermain dengan tanah yang mulai menjadi lumpur,

Memandangi hijau daun yang mulai nampak di ranting-ranting pohon,

Dan mendengarkan suara keras namun menentramkan dengan mata berbinar

 

Jika benang yang membentang di sepanjang horizon itu bisa ku anyam

Ku ingin merajutnya ke masa 10 tahun silam ketika pertemuan itu terjadi di musim kemarau

Ku ingin menyirami padang rumput yang mulai menguning,

Berjalan beriringan menyusuri hutan yang belum dijelajahi,

Melimpahkan semua canda dan tawa dalam keheningan di ruang itu

 

Namun itu semua hanyalah kalimat pengandaian

Kini waktuku berada disini…

 

Benang itu sedang kugenggam

Pengandaian itu telah menjadi harapan dalam pasir waktu yang terus menyusut

Harapanku telah dipenuhi bunga yang ingin kuberikan kepada lumbung kasih sayang

Ku ingin menyapa

Kuingin bercerita

Kuingin tertawa

Bersama mereka yang kusimpan di memori

Bersama mereka yang saat ini ada dekatku

Sampai benang itu sudah tak berujung dan terkubur bersama pasir waktu.

Bio: Aizah Fajriana Dewi Handini merupakan warga negara Indonesia dan berusia 28 Tahun. Menulis puisi merupakan kegemarannya dan beberapa puisi telah dipublikasi di platform online media. Penulis memiliki ketertarikan dalam segala tema, terutama yang berkaitan dengan kehidupan yang disiratkan melalui pemilihan diksi berbau alam dan lingkungan. Beberapa puisi yang telah dibuat diantaranya berjudul “Gradasi”, “Seutas Tali dan Balon”, dan “Debu Angkasa”. Namun, tema tentang kematian merupakan hal yang baru, sehingga disini penulis mengangkat sebuah tema kematian dari sudut pandang subjek dari kematian itu sendiri. Penyampaian dari puisi ini menggunakan Bahasa tersirat dengan menjelajahi pengandaian yang belum sempat dilakukan oleh subjek tersebut.

Kudengar dari Bunda,

kau ingin pulang ke rumah

Sudah bosan lihat selang

Sudah bosan dicucuk infus

Berapa kali kau panggil lirih namaku,

“sini, cucuku. Kemari,”

Aku belum paham apa-apa,

bahkan genggaman tanganmu tak dapat kuingat

Kudengar dari Nenek,

kau senang ada di rumah

Senyummu merekah

Tawamu renyah

Kini lega sudah aku

Setelah semua juang,

di ‘rumah’mu

engkau sentosa.

Bio: I am Amira Bellazani, 25 years old by this September. I was graduated from Padjadjaran University from Anthropology Major back in November 2018. Now, I am living my passion as a freelance graphic designer, social worker, and a melancholic writer sometimes. I have no experience about palliative care, but I’ve watched this topic in some dramas and movies – human experiences of facing death. I also find out that it has a connection between my major and palliative care; to taking care humans as humans, to live their life at their fullest; even when it feels so near to the end of their journey.

Bila orang berkata
manusia mati tinggalkan nama
namun mengenangmu
lebih dari itu

Meski letih, pucat pasi
kau simpan semua pedih
Ulas senyum indah tak terperi

Aksaramu guratkanku jendela dunia
Kau jawab sabar segala rupa tanya
Tanpa tahu waktu kita fana
tanpa daya, hanya sesal tersisa

“Tenanglah sayang,
tenang.
Hidup terus berputar.

Lihat pohon di sana?
Sebentar lagi, daun kuning berguguran,
terganti daun-daun hijau,
Agar pohon tetap menjadi pohon.

Tenanglah sayang,
tenang. Melihatmu,
tugasku usai, dalam tenang.”

Ragamu boleh pergi
Jiwamu damai kembali
Namun, Gurunda;
hadirmu abadi.

Bio: I am Amira Bellazani, 25 years old by this September. I was graduated from Padjadjaran University from Anthropology Major back in November 2018. Now, I am living my passion as a freelance graphic designer, social worker, and a melancholic writer sometimes. I have no experience about palliative care, but I’ve watched this topic in some dramas and movies – human experiences of facing death. I also find out that it has a connection between my major and palliative care; to taking care humans as humans, to live their life at their fullest; even when it feels so near to the end of their journey.
Halo

Iya halo

Tatap aku

Tak perlu kaku

Ayo kita berbincang-bincang

Ku lihat kamu begitu terguncang

Kau sedang menatap apa? Di sana ada apa?

Ya sudah, tidak apa-apa kalau kau suka menghadap ke sana

Di sana memang indah, aku yakin kau suka sekali kalau berada di tempat itu

Kau boleh sebutkan apa yang kau suka dari mereka sedangkan kau tidak punya itu

Iya? Ada lagi? Ada lagi? Ada lagi? Ada lagi? Ada lagi? Ada lagi? Ada lagi? Ada lagi?

Kau menangis kencang sekali! Ayo, lebih kencang lagi! Lebih kencang lagi! Lebih kencang lagi!

Ya, kau menatap ku sekarang. Oh! Jangan kau kira keindahanmu berkurang, kau sungguh terang.

Sekarang, adakah hal yang ingin kau tanyakan padaku? Ayo tak usah ragu-ragu.

Baik, ku ulangi pertanyaanmu. Kenapa kau ada di sini dan menjadi dirimu?

Mudah sekali menjawab pertanyaanmu. Apakau kau siap mendengarnya?

Karena aku bersamamu dan ingin melihatmu menyemangati mereka.

Iya! Mereka yang sejak tadi kau tatap dengan penuh kesenduan.

Begini. Kita semua sama. Ingin kabur dari sebuah kenyataan.

Mengejar hal lain seakan mutlak sebuah keindahan.

Kau tahu. Pada akhirnya, kau adalah keindahan.

Kau di sini bersamaku. Kau hadapi dirimu.

Kau menangis, kau menjadi jemu.

Tapi ingatkah saat kau tertawa?

Kau menyemangati mereka.

Kaulah panggilan 24 jam

Kau hidup siang malam

Kau hidup saat ini

Kaulah yang asli

Hidup itu kamu

Bersamaku

Detik ini

.

.

.

Kau adalah jiwa yang tidak pernah membuang sedetik pun kehidupan. Tangismu adalah mata air penyejuk ego. Senyummu adalah nyawa bagi jiwa yang mati. Tentu! Kaulah malaikat kehidupan. 

Bio: Saya adalah lulusan Institut Pertanian Bogor, Indonesia tahun 2019, mengambil mayor Ilmu dan Teknologi Pangan. Bidang yang seringkali saya geluti yaitu seputar pangan, aktivitas sosial, pertanian, dan lingkungan. Namun di tengah pandemi yang melanda tahun 2020, membuat saya tertarik serta bekesempatan untuk mempelajari lebih dalam terkait kesehatan mental, musik, dan desain. Mengingat bahwa sudah sejak awal memasuki kehidupan perkuliahan, kondisi mental saya kurang stabil dan memutuskan melakukan beberapa terapi setelah saya lulus. Kondisi mental demikian memicu saya untuk terus mempelajari banyak hal akibat banyaknya pertanyaan yang timbul dalam pikiran saya, salah satunya adalah terkait kehidupan dan kematian.

Sebelum cuaca memburuk, bergurulah pada rajawali

Di atas angin ribut ia bentangkan sayap

Terbang menunggang badai,

mengurai gumpalan hitam yang menghadang

Tak sirna nyalinya di ketinggian yang hampa

         meski sunyi

         meski sendiri

Ia abai pada yang menertawakan tekadnya

Yang membujuk untuk menyerah,

atau pasrah pada angin yang setiap detik berubah arah

 

Bergurulah pada rajawali

yang menjadi juru mudi atas keyakinan hati

Seandainya musim mempermainkan hari,

rajawali yang terlatih menaklukkan badai,

tak mudah baginya kehilangan kendali!

Bio: DHENOK KRISTIANTI, known as a teacher and poet. Many of her works have been recorded, both in joint and single anthologies. She also wrote short stories, essay and essay poetry. Her poetry essay entitled “Mary Jane dan Maut, Muka dengan Muka” won first place in the ASEAN Poetry Writing Competition 2019. Her book, which was recently published by Cerah Budaya Indonesia, is a collection of essay poetry entitled “Dalam Belitan Selendang”. Apart from writing, she is also active in the Reboeng Arts and Literature Institute which has contributed a lot to the world of children and literature.

Gelombang lepas gelombang membawaku menuju-Mu

Kian dekat biduk ke dermaga, kian galau ini rasa

Begitu gentar di antara rindu yang menggeletar

Adakah Kau di labuhan, menjemput dengan kain basuh tersandang di bahu?

Aku datang, tak lagi membawa air mata, Kekasih!

Deraiannya tercecer di sepanjang pelayaran,

teraduk bersama air laut yang semakin asin oleh sengsaraku

 

Bersua bersatu kita, itulah inti hari pelepasan

Tak sudi lagi kuingat langit gelap, pun gelombang pasang,

         atau cuaca buruk, atau kawan perjalanan yang menjemukan

Tidak juga elang laut yang mencuri bekal makan malamku,

         atau batu-batu karang yang menghadang,

         yang memaksa bidukku putar haluan,

         mencari dan selalu mencari jalan pulang

         menuju-Mu!

 

Sekejap lagi aku bakal sampai, Kekasih!

Akankah Kau keringkan sisa-sisa air laut di tubuhku

dengan kain basuh beraroma kembang melati?

Lantas rengkuhan-Mu yang kuat meremukkan tulang-tulang

Pasti aku lumer serupa adonan, menyatu di dalam-Mu

Nanti di titik perpaduan yang musykil,

         bantu aku menghentikan perputaran bumi

         Agar kunikmati percintaan terpanjang bersama-Mu,

         dalam keabadian, tanpa disela jeda waktu!

Bio: DHENOK KRISTIANTI, known as a teacher and poet. Many of her works have been recorded, both in joint and single anthologies. She also wrote short stories, essay and essay poetry. Her poetry essay entitled “Mary Jane dan Maut, Muka dengan Muka” won first place in the ASEAN Poetry Writing Competition 2019. Her book, which was recently published by Cerah Budaya Indonesia, is a collection of essay poetry entitled “Dalam Belitan Selendang”. Apart from writing, she is also active in the Reboeng Arts and Literature Institute which has contributed a lot to the world of children and literature.

Jam berapakah ini menurut waktu-Mu?

Dalam hitunganku semestinya malam belum lagi tiba

tapi gelap merebak di penjuru kota

Kau tahu, sedang kusiapkan bekal untuk berangkat

tapi tanpa cahaya-Mu mana bisa aku melihat?

 

Ingin kupersembahkan wajahku, tapi hanya sebentuk topeng!

Ingin kuhadiahkan hatiku, tapi hanya sebongkah batu!

Ingin kutunjukkan hasil tanganku, tapi keranjang masih hampa!

 

Mestikah aku berangkat juga

karena lonceng bergema dua belas kali?

Tapi tanpa bekal aku jadi kecut, aku jadi sangsi

 

Tunggulah sebentar,

kucari dulu yang memang wajahku

Tunggulah sebentar,

sampai kujelmakan cinta di keras hatiku

Tunggulah sebentar,

biar kupotong tanganku dan kuberikan pada tetangga sebelah

Kudengar anaknya hampir mati,

sebab bapa-ibunya menyuapi dengan sampah

Tunggulah sebentar!

 

(Hei, masihkah Kau sabar?)

Bio: DHENOK KRISTIANTI, known as a teacher and poet. Many of her works have been recorded, both in joint and single anthologies. She also wrote short stories, essay and essay poetry. Her poetry essay entitled “Mary Jane dan Maut, Muka dengan Muka” won first place in the ASEAN Poetry Writing Competition 2019. Her book, which was recently published by Cerah Budaya Indonesia, is a collection of essay poetry entitled “Dalam Belitan Selendang”. Apart from writing, she is also active in the Reboeng Arts and Literature Institute which has contributed a lot to the world of children and literature.

Tidak akan pernah ada yang abadi

Hidup, mati, harta dan yang lain nya hanya sementara 

Rasa sakit yang telah bercampur dengan ketakutan 

Tidak pernah berhenti menghantui 24/7

Sulit untuk melebarkan bibir untuk tersenyum kembali 

Berserah

Jalan terbaik dalam menyelesaikan pergumulan hati

Kaki ini melangkah penuh luka dan panas 

Api telah membakar kaki sampai kepala 

Tanpa sadar letih sudah merasuki raga 

Tidak dapat menemukan titik pemberhentian 

Berputar terus menerus tanpa henti 

Sampai raga tak kuasa menopang kembali

Menepi dan bernafas sejenak kawan 

Api mulai padam

Raga mulai mampu melewatinya.

Jatuh ke dalam lubang yang sama berkali-kali 

Tidak mampu untuk menahan semua 

Takdir memang berkata lain 

Tak kenal waktu 

Sang Pencipta memberikan jalan yang terbaik

Selamat jalan kawan

Teruslah ingat dan percaya

Kematian bukan babak akhir dari hidup 

Kita akan berjumpa kembali.

Bio: Salam kenal! Namaku Divya Sanjay Bhojwani terlalu panjang ya?hehehe kalau begitu cukup panggil saja Divya layaknya orang-orang memanggil namaku. Aku dilahirkan di Kota Kembang. Ya, benar! Aku lahir di Bandung, 2 Mei 2000 merupakan anak tunggal. Menulis menjadi salah satu hobi ku yang sudah terlihat sejak menginjak bangku sekolah dasar tingkat tiga dan terus diasah sampai dengan saat ini melalui beragam event menulis. Saat ini status ku sebagai mahasiswi aktif di Universitas Katolik Parahyangan Bandung dengan pilihan jurusan Ilmu Hubungan Internasional.

Saat ini aku yakin kamu bahagia di pelukan Sang Pencipta.

Tidak ada lagi rasa sakit yang kamu rasa.

Sementara kamu bersukacita…

         Aku berjanji untuk menjaga ibumu.

         Aku akan berusaha untuk menemaninya setiap saat sebagai pengganti keberadaanmu.

         Aku doakan supaya hanya ada air mata kegembiraan di pipi ibumu.

SEANDAINYA engkau di hadapanku…

Janji itu yang akan ku ucapkan dalam bisikan di telingamu.

Jangan khawatirkan ibumu karena ia akan bahagia bersama ku.

Bio: I am a Pediatric Oncologist and also practice Pediatric Palliative Care in National Cancer Center – “Dharmais” Cancer Hospital, Jakarta, Indonesia

Aku terkena kutukan

Alam bawah sadar menggerakkannya lagi

Aku melihat semuanya satu warna

Tanpa sadar aku menghindarinya

 

Bagaimana rasanya menyayangi

Bagaimana rasanya berkasih sayang

Kenapa aku tidak bisa merasakannya

Ah iya kutukanku adalah

Tidak bisa jatuh cinta

 

Rasanya gelap tapi terbiasa

Saat rasa cinta muncul

Secara otomatis aku menghindarinya

Cinta adalah rasa yang tidak bisa dihindari

 

Saat cinta muncul kutukan itu menghalanginya

Cinta yang tidak menyerah mendobrak kutukan itu

Tapi hanya dengan satu cara menghilangkannya

Mengenal diri sendiri

 

Aku menemukan diriku sendiri

Diriku yang menciptakan kutukan itu

Yaitu diriku yang takut kehilangan

Menutup rasa jatuh cinta tanpa sadar

 

Siapa sangka takut kehilangan menutup rasa cinta

Mencoba lebih mendalami diriku

Itu dia obatnya

Obat menghilangkan takut kehilangan

 

Dengan mencintai yang tidak pernah hilang

Dialah juga yang menciptakan takdir

Dia ada saat semua menghilang

Dia menyimpan hal indah yang tersembunyi

Dan akan memperlihatkannya dengan kepercayaan positif

Dialah Tuhan

Bio: Nama saya Gress Priselia Sarmento, Saya seorang Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Alauddin Makassar, Universitas yang cukup jauh memisahkan saya dengan satu adik saya dan orangtua yang tinggal di Jakarta, tapi itu membuat saya bisa menjelajah keinginan saya, menemukan hobby saya yaitu mempelajari budaya lain, hobby saya yang lain adalah membaca, membaca meningkatkan wawasan lebih luas di umur saya ke 20 tahun ini, saat libur kuliah tentu saja saya suka menghabiskan waktu saya di perpustakaan. Saya juga mengikuti kegiatan penyiaran dalam studio radio di kampus, rasanya ingin mengetahui hal baru, ayo mengenal saya di instagram @grspriselias

Melangkah dalam masa lalu

Bukanlah alasan untuk hidupku yang berjibaku

 

Karena menaiki proses dalam waktu

Adalah hakikat dalam pencapaian asa yang tak jemu

 

Selalu ada hasil dari setiap keringat yang jatuh.

Fandi

Bio: Nama aku Habib Affandi Mudayana atau biasa dipanggil Fandi. Aku tinggal di Bekasi, provinsi Jawa Barat, Indonesia. Saat ini umur saya adalah 27Thn+. Aku adalah pekerja kreatif yang menyukai dunia mengarang, baik mengarang cerita, maupun puisi. Dalam hal mengarang cerita, aku membuat cerpen, novel dan cerita komik format Webtoon. Sedangkan puisi, aku pernah membuat akun instagram khusus puisi yang bernama Ruang Imaji. Di sana, aku mengajak beberapa teman untuk diajak sebagai admin yang juga ikut membuat konten puisi. Namun setelah berjalan kurang lebih 3 tahun, aku telah menutup akun tersebut karena kesibukan masing-masing.

Untuk siapa kata ini aku sampaikan

Jika bukan karenamu, Ibu

 

Untuk apa larik ini aku gumamkan

Jika tak mampu berbalas budi denganmu, Ibu

 

Keringat yang kau lukiskan dalam raga yang telah layuh

Tidak menghentikan harapanmu yang kukuh

 

Wahai Ibu

 

Kau lebih dari segalanya di dunia ini

Izinkan darah dagingmu ini terus berbakti.

Fandi

Bio: Nama aku Habib Affandi Mudayana atau biasa dipanggil Fandi. Aku tinggal di Bekasi, provinsi Jawa Barat, Indonesia. Saat ini umur saya adalah 27Thn+. Aku adalah pekerja kreatif yang menyukai dunia mengarang, baik mengarang cerita, maupun puisi. Dalam hal mengarang cerita, aku membuat cerpen, novel dan cerita komik format Webtoon. Sedangkan puisi, aku pernah membuat akun instagram khusus puisi yang bernama Ruang Imaji. Di sana, aku mengajak beberapa teman untuk diajak sebagai admin yang juga ikut membuat konten puisi. Namun setelah berjalan kurang lebih 3 tahun, aku telah menutup akun tersebut karena kesibukan masing-masing.

Aku tidak tahu apa yang akan kutulis untuk memulai hari.

   Warna dan fana mengalir dalam jejak langkah.

Lalu bermuara pada perenungan dalam cita-cita yang terus kukejar.

 

Walau pagi semakin terbawa oleh hangatnya siang,

Aku tetap mencoba untuk menulis akan hari yang bermakna dalam kata.

 

   Hingga aku terbawa dalam sebuah kesimpulan…

                           Bahwa aku…

Bukanlah insan yang terus terpaku oleh redupnya Sang Senja.

Fandi

Bio: Nama aku Habib Affandi Mudayana atau biasa dipanggil Fandi. Aku tinggal di Bekasi, provinsi Jawa Barat, Indonesia. Saat ini umur saya adalah 27Thn+. Aku adalah pekerja kreatif yang menyukai dunia mengarang, baik mengarang cerita, maupun puisi. Dalam hal mengarang cerita, aku membuat cerpen, novel dan cerita komik format Webtoon. Sedangkan puisi, aku pernah membuat akun instagram khusus puisi yang bernama Ruang Imaji. Di sana, aku mengajak beberapa teman untuk diajak sebagai admin yang juga ikut membuat konten puisi. Namun setelah berjalan kurang lebih 3 tahun, aku telah menutup akun tersebut karena kesibukan masing-masing.

Hingga ke dasar hati

tak dapat ku bendung

tak kuasa ku lihat mereka

Perasaan ku begitu memuncak

kuingin berteriak, agar rasa di dada ini dapat luas

Seorang pria tua

di dorong oleh petugas

ia begitu memaksa ingin menggenggam tangan sang wijaya kusuma

namun….

ia hanya dapat menangis

Seperti bayi kecil nan lemah

ia menangis, ketika ia tak dapat mengantarkan wijaya kusuma tercinta ke pencipta

Begitu keras, hebat

sakit sang wijaya kusuma

sebelum ia pergi

Semoga jatuhnya kelopak bunga terakhir itu

dapat mengantarkan ia di surga di ujung malam yang terus berlanjut

Bio: My name is Hafizh novantori from indonesia, i am a jobseeker and scholarship hunter, i want to continue my study to nursery or medicine, but i don’t have a money to continue that dreams, but i want to stand and discover other ways, to fight for humanity, i can continue my dream with scholarship, i will fight, stand again and again whatever obstacle is , i believe i can, i wanna be usefull person for all people around the world.

Manusia adalah makhluk penuh kasih

terlahir dalam pelukan ibu

kembali berpulang dalam pelukan ibu bumi

Manusia adalah makhluk paling tersayang

Tuhan semesta alam, yang paling mulia

tidak ingin kalian bersedih atapun kesepian

Tuhan memberi kita sahabat

sesusah apapun dirimu ingatlah dia

dia ada karena untuk kalian, selalu menyelimuti dan mengingatkan kalian

agar kalian dapat mengetahui sebesar apa cinta tuhan kepada mu

Siapa kah gerangan yang kumaksud ?

Yah yang kumaksud adalah kematian

sahabat  ini tak akan pernah meninggalkan mu

ingatlah dia bahwa sahabat mu ini selalu dekat dengan mu

Jika engkau kembali dipeluk oleh ibu bumi

tubuh bagus, wajah sempurna, harta, kekuatan, keturunan

sudah tiada arti lagi bagi kita

Kematian adalah sahabat terbaik

ia akan selalu mengingatkanmu untuk selalu berbuat baik di dunia fana ini

Agar…..

ketika kita kembali menghadap kepadanya, kita dapat menceritakan hal hal baik kepada

tuhan semesta alam

Bio: My name is Hafizh novantori from indonesia, i am a jobseeker and scholarship hunter, i want to continue my study to nursery or medicine, but i don’t have a money to continue that dreams, but i want to stand and discover other ways, to fight for humanity, i can continue my dream with scholarship, i will fight, stand again and again whatever obstacle is , i believe i can, i wanna be usefull person for all people around the world.

Semakin makam semakin berat

Makin pekat malam itu makin berat

Kehidupan dengan segala hiasannya.

Yang datang akan pergi, yang pergi akan menghilang

Yang menghilang akan sirna, yang sirna akan punah.

Kehidupan dengan segala kepalsuannya.

Mereka menipu satu sama lain, saling merusak secara diam

Mereka tersenyum, walau hati tak merasakannya.

Mereka Bahagia, tapi tidak batinnya.

Kehidupan dengan segala kebisuaanya.

Raganya bertahan dalam kebisingan, lalu jiwanya sepi

Raganya bergelimang, lalu batinnya tak merasa.

Apakah hidup sekejam ini?

Apakah hidup seberat ini?

Lalu apa gunanya kita menjalani kehidupan ini?

Bio: Nama saya Hardiatinur. Biasanya dipanggil Hardi. Saya berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Saya bekerja sebagai seorang guru di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Makassar. Mata pelajaran yang saya ampuh adalah Bahasa Inggris. Sehari-hari saya gunakan waktu saya dengan sebaik-baiknya. Saya mengajarkan Bahasa Inggris kepada siswa lalu mengembangkan diri sendiri sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas diri. Bahasa Jepang adalahh Bahasa kedua yang saya tekuni saat ini. Saya bercita-cita bissa menginjakkan kaki di negeri Sakura ini. Dengan segala keterbatasan materi yang saya punya maka saya harus berjuang agar impian saya terwujud. Dengan segala kekurangan yang saya miliki lantas tidak membuat saya mundur terhadap impian saya. Saya akan tetap berjuang. Lalu saya menemukan informasi A thousand cranes membuka kesempatan untuk berangkat ke Jepang dengan beberapa syarat yang harus dilakukan. Saya membuat puisi tentang Kehidupan yang akan mengantarkan saya ke Jepang.

Kematian….

Sesuatu yang pasti dilalui siapapun

Yang kaya…

Yang pintar…

Yang miskin….

Semuanya akan melaluinya.

Dia jauh tapi nyatanya dialah yang paling dekat

Lebih dekat dari urat nadi.

Tahukah kamu?

Kematian itu bukan akhir

Kematian itu awal dari kehidupan yang abadi.

Kehidupan yang sebaik-baiknya kehidupan

Atau malah seburuh-buruknya hidup.

Apakah kamu tahu kematian indah itu?

Kematian indah itu awal dari sebaik-baiknya hidup

Ciptakanlah kematianmu yang paling indah

Sedari sekarang sampai ia datang

Karena sebaik-baiknya hidup, setelah kematian itu menjemput.

Bio: Nama saya Hardiatinur. Biasanya dipanggil Hardi. Saya berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Saya bekerja sebagai seorang guru di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Makassar. Mata pelajaran yang saya ampuh adalah Bahasa Inggris. Sehari-hari saya gunakan waktu saya dengan sebaik-baiknya. Saya mengajarkan Bahasa Inggris kepada siswa lalu mengembangkan diri sendiri sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas diri. Bahasa Jepang adalahh Bahasa kedua yang saya tekuni saat ini. Saya bercita-cita bissa menginjakkan kaki di negeri Sakura ini. Dengan segala keterbatasan materi yang saya punya maka saya harus berjuang agar impian saya terwujud. Dengan segala kekurangan yang saya miliki lantas tidak membuat saya mundur terhadap impian saya. Saya akan tetap berjuang. Lalu saya menemukan informasi A thousand cranes membuka kesempatan untuk berangkat ke Jepang dengan beberapa syarat yang harus dilakukan. Saya membuat puisi tentang Kehidupan yang akan mengantarkan saya ke Jepang.

Gemericik air terdengar

Keras…Semakin keras…Semakin keraasss bunyinya

Seiring dengan ritme hatiku

Ku tengok lautan, apakah kapal itu tiba?

Bukannn….ternyata halusinasiku

Ku kembali memasang topeng kebahagiaan

Kembali ku dendangkan lagu

Senyum itu mengembang di wajah yang awalnya muram

Semakin ku semangat berdendang, semakin kebahagiaan terpancar

Topeng kebahagiaan terus ku pasang

Walau dalam hatiku perasaan cemas, sedih, takut beradu jadi satu

Akankah kapal itu menjemput segera?

Ahh… sudahlah . Tidak ada satupun yang tau kapan dia datang

Ku akan terus merawat dengan cinta dan kebahagiaan.

Bio: I am a lecturer at a nursing school Universitas Lambung Mangkurat Indonesia. I take palliative nursing courses. The research and community service that I have done has the theme of palliative nursing. I am very interested and want to continue to learn about palliative nursing. I started doing research on palliative nursing from 2015 until now. I also work at a health clinic that has home care, especially palliative patients. I am very happy to treat palliative patients because many lessons and experiences that I can take and make patients happy at the end of their life are very meaningful things

Sesungguhnya bukan kematian yang kutakutkan

tapi kesendirian yang sangat dan belaka sunyi

di kepung hamparan padang senyap bahkan detak nadi sendiri tiada terdengar menemani

 

Sungguh bukan kematian yang membuat jerih

tapi bersendiri perih menapaki gulita sepi bahkan seretan langkah kaki sendiri

tiada terdengar mengiringi

 

Sendiri      

 

ya Tuhan

 

Engkau memang harus ada!

Bio: I GEDE JONI SUHARTAWAN, graduated from Gadjah Mada University, majoring in Communication Studies. From 1995 to 2015 he was a practitioner on national television stations; and now as a media consultant in several institutions. Writing is her passion. Occasionally writes fiction, both drama and short stories. His drama entitled Wayan Baca Koran became one of the winners in the competition held by PWI (1989). His short stories have been published in Kartini, women magazine and in Horizon, Indonesia literature magazine.In 2018 his book titled Ini Broadcasting was published, which is a guidebook for the television worker.

Malaikat, ambil saja napasku  malam-malam

saat tidur mendapatkan haribaannya sepenuh

di siang terang harus berjaga mengerjakan ladang punya raja

jangan sampai aku pahlawan gugur di laga

terlalu mulia buatku

cukuplah hanya hamba di kilang anggur kerajaan

 

Biarlah dalam lelah malamku bagai pencuri kau masuk rumahku merampas napasku

itu lebih baik karena tak sudi aku muka berhadap muka denganmu

pastilah tiada kau beri waktu buat  berjeda cakap

hanya beri wajah  benderang telanjangi gelapku

 

Jadi ambil saja napasku malam-malam

sehingga ketika ku terbangun pagi hari aku tiada bercemas memekik, “Napasku dicuri!!”

 

tapi walau kupinta bagai pencuri kau ambil napas kepunyaanku malam-malam

tetaplah beri sedikit saja tanda kau datang

karena kuperingatkan bagaimanapun juga :

 

             ini napas titipan Raja!

Bio: I GEDE JONI SUHARTAWAN, graduated from Gadjah Mada University, majoring in Communication Studies. From 1995 to 2015 he was a practitioner on national television stations; and now as a media consultant in several institutions. Writing is her passion. Occasionally writes fiction, both drama and short stories. His drama entitled Wayan Baca Koran became one of the winners in the competition held by PWI (1989). His short stories have been published in Kartini, women magazine and in Horizon, Indonesia literature magazine.In 2018 his book titled Ini Broadcasting was published, which is a guidebook for the television worker.

Bilamana atas nama kemuliaan,  tanah tak berkenan memangku

naikkan saja ini jasad ke liang dinding batu

Biar mengering sendiri diserap waktu

 

Bilamana atas nama penyucian, api tak berkenan menempa

hanyutkan saja ini jasad ke ufuk ceruk laut

Biar menyerpih sendiri dihempas waktu

 

Bilamana atas nama penyucian, air tak berkenan membasuh

tinggalkan saja ini jasad tergeletak di mesbah batu

Biar tercabik sendiri dicerna waktu

 

Bilamana liang batu, ufuk ceruk laut, mesbah batu pun

Tiada berkenan menerima

palingkan segera badan tudungi wajah

dan sangkal saja :

 

ini jasad entah siapa!

 

Dengan demikian atas nama tiada dikenal oleh siapa pun nama

barangkali tanah api air rebut-berebut sedia tempat

 

         ini jasad tiada bernama tapi ada tercatat ia

         warga surga !

Bio: I GEDE JONI SUHARTAWAN, graduated from Gadjah Mada University, majoring in Communication Studies. From 1995 to 2015 he was a practitioner on national television stations; and now as a media consultant in several institutions. Writing is her passion. Occasionally writes fiction, both drama and short stories. His drama entitled Wayan Baca Koran became one of the winners in the competition held by PWI (1989). His short stories have been published in Kartini, women magazine and in Horizon, Indonesia literature magazine.In 2018 his book titled Ini Broadcasting was published, which is a guidebook for the television worker.

Pernah ada seorang bilang tentang reinkarnasi

Setelah kehidupan ini kau akan hidup lagi

Jangan bersedih, siapa tahu itu terjadi

Hidup yang sejak dulu angan-anganmu

Itu topik diskusi kita sepanjang waktu

 

Kau bilang ingin jadi seseorang

Asalnya bisa dari mana saja dan rupanya tak masalah

Satu pintamu, kesehatan dan umur panjang

Kehidupan yang selalu kau dambakan

 

Untuk itu kau tak perlu bersedih

Tak perlu takut akan maut

Apalagi takut tanggalkan hidupmu

Tubuhmu ini hanya benda mati, jiwamu lah yang akan terus bernyawa

Lewat maut, itu jembatannya

Menyeberang dimensi waktu menuju kehidupan berikutnya

Bio: Nama saya Intan Purnomo Wulan, lahir di Tangerang tanggal 13 April 1996. Saya adalah anak pertama dari lima bersaudara. Sejak kecil saya gemar membaca buku. Komik, novel, dan cerita pendek yang selalu terbit di koran hari Minggu. Dari hobi membaca itulah, saya mulai tertarik menulis. Saya sering menantang diri dengan turut serta dalam lomba.

Untuk kalian yang berada di ujung jalan

Dibawah remang lampu mulai habis terang

Diawasi gelap ditemani perih

Mati enggan, hidup segan

 

Didepan, kalian lihat akhir

Dibelakang, kalian lihat kami, para pejuang hidup sepertimu dulu

Tapi tidak, saat ini pun kalian masih pejuang

Karena semangat masih nyala membara, tak padam sekalipun ditiup gelisah

 

Dan sesungguhnya kalian tak sendirian

Karena pada awalnya kita semua tiada

Dan kembali pada ketiadaan itu adalah hal lumrah

Waktu lah yang membuat segalanya berbeda

Bio: Nama saya Intan Purnomo Wulan, lahir di Tangerang tanggal 13 April 1996. Saya adalah anak pertama dari lima bersaudara. Sejak kecil saya gemar membaca buku. Komik, novel, dan cerita pendek yang selalu terbit di koran hari Minggu. Dari hobi membaca itulah, saya mulai tertarik menulis. Saya sering menantang diri dengan turut serta dalam lomba.

Singkirkanlah potongan teka-teki di dalam kepalamu

Saatnya untuk menemukan perangkap dalam kenyataan

Bukan hari yang buruk, tapi cukup tersiksa

Kabut putih yang terlintas di benak

Berubah warna menjadi hitam kegelapan

Apa kau merasakan ada keganjalan disini?

Jangan merasa ketakutan pada kucing yang tak berbulu

Cahaya yang begitu terang, ku ingin menyapamu

Selimut merah, ku hanya mencoba tuk mewarnaimu

Jangan khawatir, aku megelabuhimu

Jangan takut, aku hanya ingin menyapamu

Bersamaan dengan hancurnya istana pasir yang kian meresap

Bio: Kawanku yang berbahagia. Disini saya akan menjelaskan tentang biografi singkat saya untuk para pembaca. Ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Jadi, pertama-tama perkenalkan nama saya Kelfi Darisna dan terbiasa dengan panggilan Kelfi. Lahir dengan julukan Udang dan Bandeng yakni Sidoarjo tepat pada tanggal 22 bulan Agustus tahun 1999. Untuk negara tempat tinggal saya mungkin ini merujuk ke asal saya, bersamaan dengan tempat lahir saya yaitu di Sidoarjo, Jawa Timur. Untuk Negara Asal, saya berasal dari Indonesia yang terkenal dengan kota Bali. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia karena saya orang Indonesia. Tetap cinta Indonesia dan selalu mendukung untuk Indonesia.

1 | 2